Semua informasi seputar bitcoin (BTC), Litecoin (LTC), Ethreum (ETH) dan berbagai cryptocurrency

Apa Saja Faktor Penyebab Bitcoin Bubble dan Dampaknya?

Salah satu pendukung prediksi Tim Draper, Shiller, mengatakan kalau fenomena Bitcoin Bubble itu mungkin saja terjadi. Sebagaimana tercatat sebelumnya, Tim Draper memprediksi harga Bitcoin di tahun 2022 senilai 250.000 Dolar. Meskipun masih prediksi, secara analitis ada benarnya. Inilah faktor penyebab adanya bubble pada Bitcoin sekaligus dampaknya.

Bitcoin Bubble

 

Investasi Bitcoin itu Sekarang Jadi Hobi Orang Kaya

Sistem keamanan Bitcoin sangat tangguh dan teruji. Belum ada satu pun yang berhasil membobolnya. Inilah yang menguatkan niat orang-orang kaya untuk ikut andil dalam perdagangan mata uang digital Bitcoin. Investasi aktif, tentunya, sebab dipegang dan dikelola sendiri. Selama ini kita tahu, orang kaya itu suka mengoleksi benda atau hal-hal unik.

Misalnya tas yang harganya puluhan juta rupiah, atau mobil, jam, dan lain-lain. Dengan memiliki sejumlah benda prestisius itu, nilai gengsinya akan bertambah. Begitu pula dengan Bitcoin yang tengah populer akhir-akhir ini. Walaupun risiko perdagangan mata uang digital Bitcoin sangat besar, mereka tetap ambil bagian.

Ada Kaitannya antara Hobi dengan Ledakan Nilai Bitcoin

Coba sekarang hitung, berapa jumlah orang kaya di dunia ini? Cukup banyak, bukan? Ketika permintaan pasar terhadap Bitcoin naik, secara otomatis harga koin Bitcoin juga naik. Ini sudah menjadi ketetapan hukum ekonomi. Soalnya dipastikan koin Bitcoin yang tersisa tinggal sedikit. Kelangkaan itu yang memegang kunci naiknya harga Bitcoin.

Satu Bitcoin bisa dipecah menjadi beberapa digit angka desimal. Ketika Bitcoin harganya terus naik, maka orang yang memiliki garis ekonomi menengah ke bawah juga ikut-ikutan. Soalnya bisa menukarkan uang Rupiah ke pecahan satuan Bitcoin. Inilah yang menyebabkan adanya Bitcoin Bubble, sebab permintaan pasar tidak memiliki akhir.

Tidak Adanya Otoritas Sentral

Faktor penyebab bubble selanjutnya karena negara tidak bisa turun tangan untuk mengatur sistem keuangan Bitcoin. Tingginya harga Bitcoin disebabkan oleh harapan spekulatif para pelaku pasar. Terutama dalam memaksimalkan penawaran dan permintaan atas Bitcoin di masa depan. Sampai saat ini tidak ada negara yang jadi tuan atas mata uang Bitcoin.

Selama ini, harga sekaligus penerbitan Bitcoin disandarkan pada jumlah suplai dan permintaan. Jumlah Bitcoin di dunia bersifat tetap, yakni 21,26 juta BTC. Dengan kata lain, tidak ada penanggung jawab secara resmi. Potensi naik-turunnya jadi sangat tinggi. Uniknya, para pecinta mata uang digital berani berinvestasi uang mereka karena hal tersebut.

Dampak yang Terjadi Andai Bitcoin Bubble Terjadi

Seorang peraih nobel di bidang ekonomi, Shiller, mengatakan bahwa potensi bubble pada Bitcoin bisa saja terjadi. Begitu pula dengan prediksi para pakar ekonomi di Indonesia. Khususnya yang selama ini berada di balik skema keuangan Indonesia melalui BI (Bank Indonesia). Ada dua dampak yang besar andai fenomena bubble terjadi.

Pertama, berpotensi menyebabkan inflasi mata uang digital. Permintaan Bitcoin semakin bertambah. Hal ini menyebabkan adanya pecahan-pecahan Bitcoin yang demikian banyaknya. Bukan tidak mungkin ke depannya mata uang digital tidak berlaku lagi. Kedua, kepercayaan warga pada mata uang konvensional memudar.

Kita hanya berharap semoga fenomena Bitcoin Bubble tidak terjadi. Andaikata bubble bertahan dalam waktu lama, bukan hanya Rupiah saja yang terusik, tetapi juga mata uang konvensional lain di seluruh dunia. Kemudian akan tercipta sebuah era manusia yang bisa membeli sesuatu dengan uang digital. Apakah Anda mengharapkan hal ini terjadi?
Baca Juga: Apa Itu Hardfork ?

Cari Artikel