Semua informasi seputar bitcoin (BTC), Litecoin (LTC), Ethreum (ETH) dan berbagai cryptocurrency

Apa Itu Hardfork? – Penyebab dan Akibatnya

Spread the love

Apa itu Hardfork? Dalam dunia kriptografi, kita pasti sudah tidak asing lagi dengan kata-kata Hardfork (garpu keras) atau update yang dilakukan pada suatu sistem kripto blockchain. Banyak sekali hardfork yang sudah terjadi selama tahun 2016 hingga 2017 ini, misalnya saja :

  • Pada bulan Juli 2016, dilakukan hardfork pada platform Ethereum dengan memisahkan Chain, agar koin yang hilang akibat Hacking The DAO dapat dipulihkan dan menghasilkan Altcoin baru yang diberi nama Ethereum (ETH), sedangkan koin lama dinamakan Ethereum Classic (ETC).
  • Pada tanggal 1 Agustus dilakukan hardfork pada jaringan inti Bitcoin yang menghasilkan pemisahan Chain dan menjadikan Altcoin baru yaitu Bitcoin Cash (BCH).
  • Pada Bulan November 2017, dilakukan hardfork kembali pada jaringan inti Bitcoin yang menghasilkan Altcoin baru yang disebut dengan Bitcoin Gold (BTG).
  • Bahkan hari ini (28 Desember 2017), sedang dilakukan hardfork kembali pada platform Bitcoin Core untuk menghasilkan Altcoin baru bernama B2X, dengan implementasi SegWit2x pada platformnya.

Sebenarnya masih ada banyak sekali hardfork yang sudah dilakukan pada beberapa mata uang kripto ter-atas, namun tidak bisa kita bahas satu persatu dalam tulisan ini. Lantas, Apa Itu Hardfork? Penyebab dan Akibatnya?.

Apa Itu Hardfork?

Menurut Wikipedia Hardfork adalah sebuah perubahan pada protokol jaringan Blockchain yang membuat blok / transaksi yang tidak valid (biasanya disebabkan oleh perbedaan skalabilitas), sehingga diperlukan upgrade dari seluruh pengguna kripto tersebut. Setiap hardfork akan merubah struktur blok (termasuk Hash pada blok tersebut), aturan kesulitan penyelesaian algoritma, dan peningkatan jumlah transaksi yang dapat diproses per-detiknya. Umumnya, hardfork akan dapat dilakukan jika konsensus / persetujuan melalui voting yang didapatkan sudah lebih dari 90%.

Sedangkan menurut Investopedia, Hardfork di definisikan sebagai perubahan radikal terhadap suatu protokol pada jaringan blockchain, yang membuat blok atau transaksi yang valid (sebaliknya) menjadi tidak valid (sebaliknya). Bisa dikatakan bahwa hardfork merupakan suatu divergensi permanen dari versi blockchain sebelumnya, sehingga versi baru dari blockchain tidak akan dapat diproses pada blockchain sebelumnya.

Penyebab dan Akibat Hardfork

Sebuah Hardfork biasanya diimplementasikan pada suatu sistem jaringan blockchain jika terdapat beberapa kekurangan yang dikategorikan “berbahaya”. Misalnya saja seperti yang terjadi pada Ethereum, pada saat Hacking The DAO yang menyebabkan kehilangan dana lebih dari $3,6 juta senilai Ethereum pada platform mereka. Atau masalah yang terjadi seperti pada Bitcoin saat ini yang memiliki masalah skalabilitas, sehingga menyebabkan proses transaksi menjadi lambat serta pembebanan biaya transaksi yang menjadi begitu besar. Bahkan menurut data dari Blockchain.info, transaksi Bitcoin saat ini memakan biaya transaksi sebesar $35 per transaksi, dan proses validasinya mencapai 38 menit hingga 1.188 menit. Beberapa masalah yang menyebabkan suatu kerentanan, atau ketidak sempurnaan suatu sistem blockchain tersebut-lah yang mengharuskan sebuah hardfork harus dilaksanakan.

Sejauh yang bisa saya temukan, Hardfork berdampak pada platform blockchain sebagai pemisahan chain yang berbeda, sehingga menciptakan Altcoin baru yang dinilai lebih sempurna. Namun ada hardfork yang memiliki efek tanpa pemisahan chain seperti penerapan SegWit (Segregated Witness) pada  platform Bitcoin Core. Namun, hardfork tersebut harus dilakukan secara manual oleh setiap penyedia platform wallet sepert Coinbase yang baru-baru ini mengadopsi implementasi SegWit agar transaksi dapat diproses dengan lebih cepat.

Baca juga : Harga Bitcoin Mencapai $ 10.000

Pada umumnya, Hardfork yang dilakukan tetap akan menghasilkan Altcoin baru tanpa dapat memperbaiki blockchain yang sudah berlaku, hal ini lah yang kemudian membuat Bitcoin dan para kripto senior lain untuk tidak bisa berkembang. Sedangkan beberapa Altcoin baru seperti NEO, NEM, EOS, dan IOTA yang notabene tergolong masih sangat baru mempunyai sistem hardfork tanpa pemisahan chain, sehingga tidak muncul lagi koin baru yang bisa dikatakan “lebih merepotkan”.


Spread the love

Cari Artikel